Wednesday, 4 November 2015

Muhasabah
✅ Mungkin kau tak tahu dimana rizqimu. Tapi rizqimu tahu dimana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.
✅ Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yg sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.
✅ Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban "Dari Mana" & "Untuk Apa" atas tiap karuniaNya.
✅ Betapa banyak orang bercita cita menggenggam dunia; dia lupa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.
✅ Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya(mati).
✅ Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita.
✅ Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat.Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.
✅ Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa keMarwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya ??
✅ Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.Ia kejutan untuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga.Tugas kita cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.
✅ Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta& Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, "Buat apa?"
Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya "hak pakai" yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di'adzab.
✅ Dengan itu kita mohon "Ihdinash Shirathal Mustaqim"; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yang tersesat.
✅ Maka segala puji hanya bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna".

0 comments:

Post a Comment